about

Allah tujuan kami, Rasul uswah kami, Alqur'an pedoman kami, tegaknya syariat Islam adalah cita cita kami
RSS

TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM DOKTRINASI GEREJAWI Opini dan fakta yang bertolak-belakang


Oleh : *Nasrul Mukhsinin


                 Pemeluk agama - agama di Indonesia mengalami intensitas yang sangat tinggi dalam beberapa kurun waktu terakhir. Tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya agama dalam kehidupan semakin meningkat, berbanding lurus dengan sosialisasi agama dan pendidikan di masyarakat. Namun, di sisi yang lain timbulnya agama agama yang lain ini memberikan dampak buruk terhadap kerukunan masyarakat. Sikap intoleransi dan skeptis terhadap pemeluk agama yang lain perlahan-lahan mulai menggerogoti nilai-nilai persatuan.
                Dalam kunjungan kami ke Gereja Kristen Indonesia ( selanjutnya disebut GKI) Gejayen beberapa hari yang lalu, kami berkesimpulan bahwa metode penyebaran dakwah teologis mereka menggunakan metode persuasif yang sistematis dan continue. Semuanya tersusun secara rapi dan terencana. Di awali dengan proses pengajaran serta pemahaman Al-kitab yang terbagi dalam beberapa waktu tertentu untuk semua kalangan umat kristiani, kajian teologi kristiani pada kalangan intelektual, serta sosialisasi kepada masyarakat yang berupa profit banking, pelayanan kesehatan, pendidikan serta bimbingan konseling. Pendekatan sosial seperti ini sejatinya telah lahir semenjak 1400-an tahun yang lalu, Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh dakwah yang baik dalam proses penyebaran agama islam. Namun metode metode tersebut mulai d tinggalkan oleh para reformis islam yang paradigma berfikirnya telah tercemar faham radikalisme dan orientalis yang merusak kemurnian ajaran islam. Faham yang dikloning dari faham sekulerisme dan pluralisme ini melahirkan sebuah konsep keislaman terbaru yaitu konsep islam fundamental, islam inklusif, dan islam liberal.
                Di waktu yang sama kami juga menanyakan bagaimanakah saran kalangan gerejawi tentang toleransi umat beragama di Indonesia. Menurut salah satu Pendeta di GKI tersebut yang bernama Hadiyan, proses toleransi kerukunan umat beragama saat ini membutuhkan kesinambungan antara berbagai pihak yang harus dibangun dari pondasi awal di masyarakat tanpa ada kepentingan dan intervensi tertentu. Namun disinilah munculnya pertanyaan praktis dalam benak kami, saat ini masih adakah toleransi bagi umat islam? Karna pada realitanya di dalam masyarakat saat ini kita tidak pernah mendapati toleransi umat lain terhadap masyarakat muslim. Kita ambil fakta real yang sedang hangat seperti kristenisasi, pemberian label “ekstrim” pada ormas-ormas islam ( FPI, FUI, FAPD, dll), pelarangan dalam menggunakan jilbab, dan lain sebagainya. Selain itu, menurut saya nilai toleransi umat beragama modern ini lebih terkesan sebagai politisasi oknum untuk kepentingan golongan tertentu dan juga sebagai cara. Toleransi di negeri ini hanyalah selogan yang digunakan untuk meraih profit yang besar.
                Masalah toleransi menjadi pembicaraan yang hangat akhir-akhir ini, lantas bagaimana sikap kita.? apakah islam mengajarkan toleransi.? Ya, Islam memang mengajarkan sikap toleransi. Toleransi itu membiarkan umat lain menjalankan ritual agamanya, termasuk perayaan agamanya. Toleransi itu tidak memaksa umat lain untuk memeluk Islam. Rasul juga menjenguk non-Muslim tetangga beliau yang sedang sakit. Rasul juga bersikap dan berbuat baik kepada non-Muslim. Toleransi semacam ini telah memberikan contoh bagi masyarakat lain bahwa islam merupakan agama rahmatan lil’alamin yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan kedamaian. Namun, toleransi dalam Islam itu bukan berarti menerima keyakinan yang bertentangan dengan Islam atau bukan juga toleransi yang berakibat perusakan syariah dan akidah ketauhidan.

                Namun, apa yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Muncullah sikap toleran yang kebablasan, khususnya pada sebagian Muslim. Sikap toleran yang kebablasan itu didorong agar dilakukan oleh seluruh Muslim negeri ini. Diserukanlah bahwa sikap bertoleransi itu harus diwujudkan dengan memberikan selamat, bahkan menghadiri hari raya non-Muslim. Yang lebih parah, baru dianggap toleran jika Muslim melepaskan keyakinannya yang tidak sesuai dengan keyakinan orang lain. Misalnya, keyakinan bahwa wanita Muslimah haram menikah dengan pria non-Muslim. Mempertahankan keyakinan demikian dianggap tidak toleran.
                Alhasil, toleransi saat ini digunakan sebagai senjata oleh kalangan liberal dan non-Muslim untuk menyasar Islam dan umatnya. Sedikit-sedikit mereka menyebut kaum Muslim tak toleran jika ada masalah yang menyangkut komunitas non Muslim—meski tak jarang sebenarnya itu menyangkut aturan negara. Masalah toleransi yang tidak difahami dengan benar oleh masyarakat menjadikan umat islam Indonesia kekinian mengalami masa masa yang berat. Islam mulai terpecah belah oleh kediktatoran nilai demokrasi dan undang-undang. Umat islam dianggap intoleransi terhadap agama lain. Meskipun umat muslim Indonesia mendukung perdamaian,tapi kenapa umat islam harus menggunakan atribut agama lain pada hari-hari besarnya? Apakah ini suatu keadilan atas nama toleransi?
                Peristiwa seperti ini dijadikan momentum penting menanamkan ide sinkretisme dan pluralisme. Melalui upaya ini, akidah umat Islam secara pelan-pelan terus tergerus. Ide pluralisme ini mengajarkan bahwa semua agama sama. Ajaran ini mengajak umat Islam untuk menganggap agama lain juga benar. Pemahaman toleransi yang salah dapat menyebabkan pluralisme agama. Pluralisme agama adalah salah satu agenda liberalisasi pemikiran. Dalam pandangan manusia pluralis, semua agama adalah sama benarnya dan sama validnya. Salah satu cara yang mereka tempuh untuk tujuan tersebut adalah membesar-besarkan masalah toleransi, seakan-akan ia hal baru dalam Islam. Padahal jika kandungannya bukan ide-ide sekular-pluralis, Islam sudah matang bertoleransi sejak ia lahir. Sementara jika maknanya adalah relativisme, maka pluralisme tidak lebih dari kepanjangan tangan dari postmodernisme.
                Dalam soal toleransi beragama, antara opini dan fakta memang bisa jauh berbeda. Umat Islam sudah kenyang dengan rekayasa semacam itu. Tengoklah, berapa gelintir orang Muslim yang diberi kesempatan untuk menjadi pejabat tinggi di negara-negara Barat, sampai saat ini. Tengoklah, apakah kaum Muslim di sana bebas mengumandangkan azan, sebagaimana kaum Kristen di Indonesia bebas membunyikan lonceng gereja. Apa ada hari libur untuk kaum Muslim saat berhari raya, sebagaimana kaum Kristen menikmati libur Natal dan Paskah?
                Tengoklah pusat-pusat pembelanjaan dan televisi-televisi Indonesia saat perayaan Natal! Apakah kaum Kristen dihalang-halangi untuk merayakan Natal dan hari besar lainnya? Justru yang terjadi sebaliknya. Di Indonesia, sebuah negeri Muslim, suasana Natal begitu bebas merambah seluruh aspek media massa. Khusus dalam konteks Natal, itu berarti umat Muslim didorong untuk menerima kebenaran ajaran Kristen, termasuk menerima paham trinitas dan ketuhanan Yesus. Jika ide pluralisme itu berhasil ditanamkan di tubuh umat Islam, hal-hal yang selama ini sensitif terkait masalah agama seperti pemurtadan, nikah beda agama dan sebagainya akan makin mulus berjalan. Lebih jauh, semangat umat Islam untuk memperjuangkan syariah agar dijadikan aturan untuk mengatur kehidupan masyarakat akan makin melemah. Di dalamnya juga ada propaganda sinkretisme, yakni pencampuradukan ajaran agama-agama. Dalam konteks Natal Bersama dan Tahun Baru, sinkretisme tampak dalam seruan berpartisipasi merayakan Natal dan tahun baru, termasuk mengucapkan selamat Natal. Padahal dalam Islam batasan iman dan kafir, juga batasan halal dan haram, sudah sangat jelas.
                Dalam kondisi maraknya ritual Kristen dan Kristenisasi di Indonesia, sungguh suatu “kecerdikan yang luar biasa” dalam bidang teknik pencitraan, bahwa islam dicitrakan sebagai sebuah agama yang tidak memberikan toleransi beragama kepada minoritas Kristen. Seolah-olah mereka adalah umat yang tertindas dan teraniaya.  Adanya kasus-kasus tertentu diangkat dan dieksploitasi begitu dahsyat sehingga islam dicitrakan sebagai agama yang tidak menghargai beragama.
               
                Toleransi umat Islam dinegeri ini tidak dihargai, justru umat Islam dicitrakan sebagai umat yang tidak toleran, padahal secara umum, mereka sudah berbuat begitu baik kepada kalangan non-Muslim dalam berbagai bidang kehidupan
                Hemat saya, ketidak-selarasan dan ketidak-seimbangan yang saya simpulkan dari hasil diskusi  dengan pendeta GKI Gejayen ini dengan realita membuat saya menyimpulkan bahwa toleransi yang kini ada hanyalah sebatas kemunafikan serta fatamorgana yang tampak nyata tapi penuh politisasi demi kepentingan oknum dan golongan tertentu. Islam mengajarkan toleransi, namun jangan sampai ini merusak keimanan. Prinsip islam dalam toleransi antar umat adalah “agama yang paling benar adalah agama islam”. Dan saya menyarankan kepada rekan-rekan pembaca agar tidak salah dalam mengartikan toleransi yang berujung pada gagasan sinkretisme dan pluralisme agama. Karna ide pluralisme dan sinkretisme merupakan pembantahan terhadap konsep ketuhanan Allah SWT yang absolut dan mutlak, dan tentu saja berujung kepada kemusyrikan.
Wallahu a’lam bi showab.

















*) Mahasiswa semester atas jurusan Bahasa dan Sastra Arab, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mahasiswa dalam tantangan




By : Nasrul mukhsinin | 09 Maret 2014

 Mahasiswa adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah universitas atau perguruan tinggi. Mahasiswa merupakan kaum intelektual dan akademisi. Dalam sejarah perkembangannya, mahasiswa berperan aktif dalam pembangunan suatu Negara khususnya bagi bangsa Indonesia. Mulai dari masa perjuangan pasca kemerdekaan, masa orde lama, orde baru, reformasi hingga saat ini. Masih lekat ingatan kita bagaimana rezim orde baru yang sangat kuat tatkala dipimpin oleh Presiden Soeharto  runtuh dalam gerakan mahasiswa. Itulah mahasiswa dengan bakat  keistimewaan dan intelektualitasnya.
Mahasiswa sebenarnya hanyalah sebutan akademis untuk siswa atau pelajar yang telah sampai pada tingkat pendidikan pergururan tinggi atau institusi. Dalam realitanya pendeskripsian kata mahasiswa lebih luas dari skedar belajar di perguruan tinggi atau institusi. Pada hakikatnya, mahasiswa tidak hanya sekedar kuliah pulang, kuliah pulang saja. Tetapi harus memiliki kesadaran untuk terus menggali informasi, ilmu pengetahuan , berfikir kritis dan logis, berkemauan tinggi , bekerja keras dan juga memiliki kepedulian yang kuat terhadap polemik yang ada di dalam masyarakat dan negara.
Menyandang label mahasiswa memberikan suatu kebanggaan sekaligus tantangan tersendiri. Betapa tidak, menyandang status sebagai mahasiswa memiliki ekspetasi dan tanggung jawab yang sangat besar. Selain berprofesi sebagai pelajar mahasiswa juga memiliki peran peran yang sakral dalam kehidupan social. Karna sejatinya mahasiswa merupakan agen perubahan dan social control dalam kehidupan dimasyarakat. Selain itu, mahasiswa juga sebagai penyambung lidah rakyat kepada para “wakil”nya di pusat. Secara garis besar peran mahasiswa mencakup akan 3 hal yaitu peran moral, peran social dan juga peran intelektual.
Peran moral sebagai perbaikan akhlak budi pekerti masyarakat yang sinergi dengan peranan sosial mahasiswa sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab mereka pada pembangunan tatanan sosial di masyarakat. begitu pula aktif dalam peningkatan intelektual generasi generasi muda Indonesia demi mewujudkan indonesia bebas dari penjajahan buta aksara dan kebodohan.
Mari kita sedikit memutar masa lalu. Mungkin masih lekat dalam benak kita semua, bagaimana kediktatoran masa orde baru yang kuat nan kokoh  diruntuhkan dengan kekuatan mahasiswa. Begitu besar power yang dimiliki mahasiswa dalam pergerakannya. Selanjutnya pada era reformasi mahasiswa memiliki andil yang sangat besar, sejak awal tegaknya reformasi hingga pengawalan terhadap dalam masyarkat akibat reformasi . itulah sedikit kutipan tinta emas yang telah ditorahkan mahasiswa dalam pembangunan negara Indonesia.
Namun realita yang terjadi kini berbanding terbalik, prestasi gerakan mahasiswa terus menurun seiring perkembangan zaman. Mahasiswa mulai kehilangan kepribadian dan semangatnya. Seringkali kita temui banyak mahasiswa yang kuliah hanya sekedar kuliah demi selembar ijazah untuk memuluskan masa depan mereka. Mereka menolak ingat akan peran dan tanggung jawab yang melekat pada mahasiswa. Degradasi moral, krisis eksistensi dan mental, ambivalensi pada lingkungan, serta orientasi yang kuat pada gaya hedonisme yang kental membuat mahasiswa mulai lupa akan jati diri. Kondisi ini sangatlah memprihatinkan , mengingat peran dan fungsi haqiqi dari mahasiswa itu sendiri.
Salah satu redupnya prestasi dan gerakan mahasiswa saat ini yakni karna mahasiswa tidak lagi mampu mempertahankan momentum yang tepat untuk bergerak. Migrasi ideologi yang tumpang tindih menyebabkan mahasiswa saling memperjuangkan ideologi nya masing masing dan sulit bersatu. Selain faktor diatas ada faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan  mahasiswa,yakni gencarnya arus globalisasi di Indonesia. Demi menyikapi maslah ini, hendaknya mahasiswa berhati hati dalam menyikapi agar tidak terbawa dalam arus globalisasi yang membawa dampak negative yang sangat besar dalam masyarakat.
Arus globalisasi membawa dampak pesatnya perkembangan informasi dan teknologi yang secara tak langsung membawa efek buruk dalam kehidupan. Selain itu derasnya perkembangan ini menjadi embrio lahirnya ggaya kehidupan manusia yang mementingkan kemewahan dunia yang memabukkan. Gaya ini telah menjadi gerakan tersendiri dalam kehidupan yang biasa disebut sebagai gerakan “Hedonisme”. Dan ini merupakan kabar buruk bagi mahasiswa karena ketika gaya kehidupan yang hedonisme mulai menyeruak masuk kedalam pribadinya akan membuat jiwa nasionalisme luntur, sehingga menjadikan mahasiswa apatis terhadap kepentingan negara dan masyarakat.
Gaya kehidupan hedonisme ini juga merupakan cikal bakal lahirnya virus baru bagi mahasiswa yaitu faham liberalisme. Liberalisme merupakan kelanjutan dari virus virus yang berkembang akibat globalisasi.  Faham ini berpotensi mengkaburkan arah eksistensi mahasiswa dan menjerumuskanya pada kehidupan yang bebas tanpa aturan.  Dilain sisi liberalisme membuat kaum kurang mampu semakin termarjinalkan, carut marutnya hukum, hingga membuat kriminalisme di masyarakat semakin meningkat.
Pergerakan mahasiswa saat ini telah mencapai keadaan yang sangat kritis dan mengkhawatirkan. Sudah saatnya mahasiswa memutar haluan dan mencari jalan keluar dari semua dilematika yang hadir demi melanjutkan kembali eksistensinya dan mewujudkan cita cita para pejuang bangsa. Rekontruksi ini jangan sampai di tunda tunda lagi demi kemaslahatan bersama. Dengan ini semua diharapkan akan “menghidupkan” kembali jiwa mahasiswa yang telah lama mati suri dan kehilangan jati diri. Mari wujudkan kembali mahasiswa yang berkualitas, berintelektual cerdas yang siap menjadi generasi emas dalam membangun negara dan agama.  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Materi mata kuliah Qiroa'ah II

PELAJARAN 5


موعظة المؤمنين من إحياء علوم الدين
وقال أبو الدرداء: "لأن أتعلّم مسألة أحبّ إليّ من قيام ليلة"، وقال أيضا: "العالم والمتعلّم شريكان في الخير وسائر الناس همج لا خير فيهم". وقال الشافعيّ رضي الله عنه: "طلب العلم أفضل من النافلة". وقال فتح الموصليّ رحمه الله: "أليس المريض إذا منع الطعام والشراب والدواء يموت؟"، قالوا: "بلى"، قال: "كذلك القلب، إذا منع عنه الحكمة والعلم ثلاثة أيام يموت". ولقد صدق، فإنّ غذاء القلب العلم والحكمة، وبهما حياته، كما أنّ غذاء الجسد الطعام، ومن فقد العلم فقلبه مريض، وموته لازم، ولكنّه لا يشعر به، إذ حبّ الدنيا وشغله بها أبطل إحساسه. فنعوذ بالله من يوم كشف الغطاء، فإنّ الناس نيام، فإذا ماتوا انتبهوا. وقال ابن مسعود رضي الله عنه: "عليكم بالعلم قبل أن يرفع، ورفعه موت رواته، وإنّ أحدا لم يولد عالما، وإنّما العلم بالتعلّم".

PELAJARAN 4

الورقات لإمام الحرمين الجوينيّ
والتقليد قبول قول القائل بلا حجّة، فعلى هذا قبول قول النبيّ صلّى الله عليه وآله وسلّم يسمّى تقليدا. ومنهم من قال: التقليد قبول قول القائل وأنت لا تدري من أين قاله، فإن قلنا: إنّ النبيّ صلّى الله عليه وآله وسلّم كان يقول بالقياس، فيجوز أن يسمّى قبول قوله تقليدا. وأمّا الاجتهاد فهو بذل الوسع في بلوغ الغرض، فالمجتهد إن كان كامل الآلة في الاجتهاد، فإن اجتهد في الفروع فأصاب فله أجران، وإن اجتهد فيها وأخطأ فله أجر.

PELAJARAN 3

شرح الأربعين النووية
[عن أبي رقيّة تميم بن أوس الداريّ رضي الله تعالى عنه، أنّ النبيّ صلّى الله عليه وآله وسلّم قال: "الدين النصيحة"، قلنا: "لمن؟"، قال: "لله ولكتابه ولرسوله ولأئمّة المسلمين وعامّتهم"]. رواه مسلم.
ومعنى قوله: "الدين النصيحة"، أي عماد الدين وقوامه النصيحة، كقوله: "الحجّ عرفة"، أي عماده ومعظمه. وأمّا تفسير النصيحة وأنواعها فقال الخطابيّ وغيره من العلماء: "النصيحة لله تعالى معناها منصرف إلى الإيمان به، ونفي الشرك عنه، وترك الإلحاد في صفاته وأسمائه، ووصفه بصفات الكمال والجلال كلّها، وتنزيهه عن جميع النقائص، والقيام بطاعته واجتناب معصيته، والحبّ فيه والبغض فيه، وجهاد من كفر به، والاعتراف بنعمته
والشكر عليها، والإخلاص في جميع الأمور، والدعاء إلى جميع الأوصاف المذكورة والحثّ عليها، والتلطّف بالناس". قال الخطابيّ: "وحقيقة هذه الأوصاف راجعة إلى العبد في نصحه نفسه. فإنّ الله سبحانه غنيّ عن نصح الناصح".

TEKS PELAJARAN 2

الأذكار للنوويّ
فصل: اعلم أنّ الحمد مستحبّ في ابتداء كلّ أمر ذي بال، كما سبق، كما يستحبّ بعد الفراغ من الطعام والشراب والعطاس، وعند خطبة المرأة -وهو طلب زواجها- وكذا عند عقد النكاح، وبعد الخروج من الخلاء. وسيأتي بيان هذه المواضع في أبوابها بدلائلها، وتفريع مسائلها إن شاء الله تعالى. وقد سبق بيان ما يقال بعد الخروج من الخلاء في بابه، ويستحبّ في ابتداء الكتب المصنّفة، كما سبق، وكذا في ابتداء دروس المدرّسين، وقراءة الطالبين، سواء قرأ حديثا أو فقها أو غيرهما. وأحسن العبارات في ذلك: الحمد لله ربّ العالمين.
فصل: يستحبّ أن يختم دعاءه بالحمد لله ربّ العالمين، وكذلك يبتدئه بالحمد لله، قال الله تعالى: {آخر دعواهم أن الحمد لله ربّ العالمين} [يونس: 10]. وأمّا ابتداء الدعاء بحمد الله وتمجيده فسيأتي دليله من الحديث الصحيح قريبا في كتاب الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم، إن شاء الله تعالى.

teks Pelajaran 1
تفسير البيضاوي
{بسم الله الرحمن الرحيم} من الفاتحة ومن كلّ سورة. وعليه قرّاء مكّة والكوفة وفقهاؤهما، وابن المبارك -رحمه الله تعالى- والشافعيّ. وخالفهم قرّاء المدينة والبصرة والشام، وفقهاؤها، ومالك، والأوزاعيّ. ولم ينصّ أبو حنيفة -رحمه الله تعالى- فيه بشيء، فظنّ أنّها ليست من السورة عنده. وسئل محمد بن الحسن عنها فقال: "ما بين الدفّتين كلام الله تعالى". ولنا أحاديث كثيرة، منها ما روى أبو هريرة رضي الله تعالى عنه، أنّه -عليه الصلاة والسلام- قال: "فاتحة الكتاب سبع آيات، أولاهنّ بسم الله الرحمن الرحيم"، وقول أمّ سلمة رضي الله عنها: "قرأ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- الفاتحة وعدّ «بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين» آية". ومن أجلهما اختلف في أنّها آية برأسها أم بما بعدها، والإجماع على أنّ ما بين الدفّتين كلام الله -سبحانه وتعالى-، والوفاق على إثباتها في المصاحف مع المبالغة في تجريد القرآن حتّى لم تكتب "آمين".

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tuhan yang Disaksikan Bukan Tuhan yang Didefinisikan


By : Nasrul Mukhsinin


Biografi penulis
Judul                : Tuhan yang disaksikan Bukan Tuhan yang Didefinisikan
Pengarang       : Jalalludin Rahmat


            Dalam jurnal ini, penulis berusaha mengungkap  akan kekeliruan pengetahuan tentang Tuhan yang dilakukan oleh para filsuf dan ahli ilmu kalam. Pemikiran tidak mungkin mencapai pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan, malahan pemikiran seperti itu hanya menghasilkan tipuan, khayalan, dan pertentangan.  Penulis mengutip cerita dari  Rumi mewakili para sufi yang ingin mengetahui Tuhan melalui pengabdian bukan pemikiran, melalui cinta  bukan kata, melalui taqwa bukan hawa. Mereka tidak ingin mendefinisikan Tuhan,  mereka ingin menyaksikan Tuhan. Dengan menggunakan intelek, kita hanya akan mencapai sebuah pengetahuan yang penuh dengan keraguan dan kontroversi. Sedang kan, melalui mujahadah dan amal kita dapat menyaksikan tuhan dengan haqq ul-yaqiin.
            Pada dasarnya pengetahuan yang menempati tingkat teratas dari segala pengetahuan adalah taqwa. Karna tidak ada yang lebih baik dari pada nilai taqwa itu sendiri. Dari keseluruhan yang mencoba mendefinisikan tentang tuhan, termasuk ahli filsafat, ahli kalam dan lain sebagainya, mereka tak akan mengetahui tentang tuhan itu sendiri sebelum memiliki dan mengerti akan taqwa itu sendiri.
            Jurnal ini sangat sukar difahami karna penggunaan kata dan susunannya yang ‘’ribet’’ . Sehingga bagi masyarakat awam atau kaum pelajar sangat susah untuk mengerti maksud dan tujuan dari jurnal tersebut. Dan sasaran yang   sangat tepat adalah kaum mahasiswa dan cendikiawan-cendikiawan muslim yang lainnya. Sebagai sarana untuk berkembang.
            Akan lebih baik, jika jurnal ini menambahkan tentang solusi dan cara agar masyarakat dan kaum muslimin lebih cerdas dalam memahami akan konsep ketuhanan  dan cara mengetahui akan tuhan itu sendiri. 

Dalam jurnal yang berjudul “Tuhan yang Disaksikan Bukan Tuhan yang Didefinisikan” yang dikarang oleh Jalalludin Rahmat, dijelaskan bahwa keberadaan tuhan tidak mampu didiskripsikan atau didiefinisikan. Jurnal tersebut berusaha mengupas tentang kesalahan dan kekeliruan pemikiran manusia dalam mendefinisikan Tuhan.
            Beliau mengutip cerita karya Jalal Al-dien Arrumi yang berisi keritikan halus kepada para filsuf yang berusaha mengetahui Tuhan dengan akalnya. Menurut Jalal al-dien Arumi dengan intelek kita tidak akan memperoleh pengetahuan tentang Tuhan. Intelek mempunyai kemampuan terbatas dan karena itu, tidak akan mampu mencerap Tuhan yang tidak terbatas. Intelektual atau pemikiran akan keberadaan tuhan, hanya akan memberikan batasan dari keberadaan tuhan itu sendiri.
 Ibn ‘arabi yang juga merupakan salah satu tokoh filosofi muslim mengungkapkan tentang kekeliruan pengertian dan pendeskripsian tuhan yang dilakukan oleh para filsuf dan ahli kalam. Menurut beliau, pemikiran akal tentang esensi tuhan tidak mungkin mencapai pengetahuan yang sesungguhnya akan tuhan, melainkan pemikiran tersebut hanya akan menghasilkan sebuah tipuan, khayalan dan pertentangan. Dalam tulisannya beliau menyatakan bahwa jika Tuhan berkehendak untuk memberikan pengetahuan tentang diri-Nya, maka kita harus menghadirkan hati dan akal kita akan kebenaran tersebut. Dengan kata lain, kita harus mempersiapkan akal dan diri kita untuk menerimanya. Karna itulah yang akan menjadi cahaya dan penyelaras dalam hidup serta menjauhkan diri dari hasil pemikiran yang syubhat dan menjurus kepada keragu-raguan.
Kritikan yang diberikan oleh Ibn ‘Arabi bukanlah kritakan terhadap intelek pada pengetahuan akal, namun pada kekuatan daya pikir yang merupakan kekuasaan dari akal. Dan  pengetahuan tentang Tuhan hanya dapat diperoleh bila intelek dihadapkan kepada hati dan mengambil pelajaran dari hati.
            Ringkasnya.Ibn 'Arabi menyatakan bahwa pengetahuan tentang Tuhan hanya dapat diperoleh bila intelek dihadapkan kepada hati dan mengambil pelajaran dari hati.Dan kita tidak dapat mendefinisikan tuhan karana keterbatasan pikiran dan pengetahuan kita. Namun kita hanya mampu menyaksikan tuhan dengan pengetahuan sejati yang diperoleh melalui hati, dan itu adalah taqwa. Taqwa memiliki tingkat pencapaian pengetahuan paling tinggi, dan memiliki otoritasnya berada di atas setiap keputusan yang ada dan di atas setiap orang yang membuat keputusan.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

من أضرار التدخين


انتشر التدخين، وكثرت نسبة المدخنين في هذا العصر، مما ينذر بازدياد المشكلات الصحية بينهم. فقد أظهرت دراسات كثيرة أن التدخين يعرض الصحة لكثير من الأخطار، وأنه سبب لكثير من الأمراض، مثل: أمراض القلب، وسرطان الرئة، والالتهاب الرئوي، كما أنه يسبب الشيخوخة، ويزيد نسبة الوفيات.
صحيح أن كل شيء بقضاء الله، وأن الموت والحياة والمرض والصحة، كلها بيد الله، ولكن يجب أن نتذكر دائما، أن الله سبحانه وتعالى يقول: (ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة). ويقول: (ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما). والتدخين قتل للنفس، وانتحار بطيء، كما أنه ضرر بإجماع الأطباء والعقلاء. والرسول - صلى الله عليه وسلم - يقول: "لا ضرر ولا ضرار"، وقد لوحظ أن نسبة وفاة المدخنين تزداد بازدياد استهلاك السجائر.
طبقا لتقرير منظمة الصحة العالمية، فإن التدخين أخطر وباء عرفه الجنس البشري، والوفيات الناتجة عنه تعد أكثر الوفيات التي عرفها تاريخ الأوبئة وخصوصا في الدول الفقيرة، حيث تنشر شركات التبغ دعاياتها، وتبيع أسوأ أنواع السجائر وأخطرها.
وفي كل هذا دليل على خطر التدخين على البشرية، فهل يدرك صغار الشباب - بصفة خاصة - ما ينتظرهم من أخطار وأضرار، إذا مارسوا التدخين، وأقدموا عليه؟!
نتيجة لكل ما سبق، فإن المدخن يقتل نفسه بنفسه، كما ثبت أن ضرر التدخين يتعدى المدخنين أنفسهم إلى بقية أفراد المجتمع من المجاورين للمدخنين، فالتدخين ضرر متعد، لأن الدخان المتصاعد من أفواه المدخنين، يستنشقه من حولهم دوان اختيار منهم. والحرية الشخصية هنا تتعارض مع حقوق المجتمع. وكم من حريق شب بسبب المدخنين، وكانت أضراره جسيمة.
ينفق المدخنون أموالا كثيرة على السجائر، ولا يأخذون مقابل ذلك إلا ضررا وخسارة. وقد وجد أن ما ينفقه 60 مليون مدخن في أمريكا، يكلف 4 مليارات دولار في العام. وتزداد المصيبة عندما يكون المدخنون من الأسر الفقيرة، التي تستهلك السجائر أكثر دخلها، فتترك هذه الأسر الأشياء الضرورية، وتشتري السجائر، وفي هذا إضاعة للمال، وقد نهى الإسلام الإنسان عن إضاعة المال، فيما لا فائدة فيه.
لكل هذه الأسباب، وغيرها، جاء الدين الإسلامي بالنهي عن التدخين وتحريمه، لأنه بهذه الصفة لا يكون من الطيبات التي أحلت لبني آدم، بل هو من الخبائث التي حرمت عليهم. قال الله تعالى: (ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث).



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Indonesia lebih kuat, tanpa JIL . . . !



sejumlah orang bersepakat mengadakan demonstrasi di bundaran HI, Jakarta Pusat. Demo itu bertemakan (dan menuntut) pembubaran FPI (Front Pembela Islam) yang selama ini dinilai kerap melakukan aksi kekerasan atas nama agama. Aksi-aksi FPI tersebut dianggap telah menimbulkan keresahan dan mengancam kebebasan. Di lain pihak, seolah-olah aparat keamanan dan pemerintah mendiamkan saja aksi-aksi tersebut. Menurut salah satu penggagasnya, Mariana Amirudin, demo ini murni berasal dari kalangan pegiat media sosial, khususnya di jejaring sosial twitter. Di twitter, orang-orang tersebut membuat hashtag #IndonesiaTanpaFPI. Berbagai twit yang bertemakan anti FPI muncul. Mulai dari kritikan ilmiah obyektif hingga caci maki. Mulai dari bahasa yang sopan, hingga bahasa yang kasar. Mulai dari sekadar kritik terhadap organisasi FPI dan pemerintah, hingga memaki-maki ajaran Islam (yang dianggap sebagai landasan aksi-aksi FPI).

Entah siapa yang mulai, bersamaan dengan munculnya hashtag gerakan #IndonesiaTanpaFPI, muncul pula hashtag #IndonesiaTanpaJIL (Jaringan Islam Liberal). Seolah-olah gerakan ini adalah respon atau jawaban dari #IndonesiaTanpaFPI. Uniknya, ketika gerakan #IndonesiaTanpaFPI sudah mulai surut dari perbincangan di twitter, justru #IndonesiaTanpaJIL makin “hot”. Ada yang membuat fan page-nya di Facebook dan membuat akun twitter @TanpaJIL. Bahkan aktor dan presenter Fauzi Baadilla membuat rekaman video singkat yang di-up load ke YouTube mengenai dukungannya pada gerakan #IndonesiaTanpaJIL ini ( youtu.be/lMbeTlMyNYk ).

Berbagai reaksi bermunculan. Yang pro dan yang kontra. Yang kontra, ada yang “menuduh” (dan mencoba mengesankan bahwa) gerakan #IndonesiaTanpaJIL disponsori oleh FPI dan disusupi kepentingan politik praktis parpol tertentu. Sementara yang pro, berdatangan dari berbagai latar belakang, mulai dari yang anti parpol hingga yang tidak suka dengan FPI.

Gerakan #IndonesiaTanpaJIL adalah gerakan moral dari sejumlah pegiat media sosial (blog, Facebook dan twitter) yang resah dengan sepak terjang JIL selama ini. Aktivis JIL seringkali membuat opini yang menggugat ajaran Islam. Hal-hal yang merupakan urusan fondasi dalam Islam, justru dipertanyakan dan dikritik, dengan dalih kebebasan berpikir ilmiah dan berpendapat. Padahal seringkali opini aktivis JIL itu jauh dari kaidah-kaidah ilmiah. Seperti menggugat ibadah qurban, mempertanyakan kenabian Muhammad SAW, mengolok-ngolok tauhid, mengejek jilbab, dan lain-lain. Hal ini terkadang dibalut dengan retorika yang dicoba dikesankan ilmiah, dengan harapan para followers atau fans atau khalayak akan percaya dan mendukung opini mereka. Bagi orang yang kurang ilmu dan tidak kritis terhadap mereka, tentu akan sangat mudah menerima begitu saja opini yang dilontarkan. Inilah yang dirasa meresahkan. Maka muncullah #IndonesiaTanpaJIL.

Dapat disimpulkan bahwa gerakan #IndonesiaTanpaJIL adalah:

Gerakan moral
Anti kekerasan
Tidak ditunggangi kepentingan politik praktis parpol tertentu
Terbuka bagi siapa saja
Membuat dan menyebarkan opini yang merupakan counter attack dari opini aktivis JIL yang membingungkan umat.
Tidak untuk membela ormas tertentu
Jika pihak yang pro JIL meminta kaum yang kontra JIL agar “melawan” JIL dengan opini/ide, maka inilah “perlawanan” itu:
 #IndonesiaTanpaJIL! 

Mari bergabung!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengapa Harus Mahasiswa?



Pemberitaan media yang akhir-akhir ini menyoroti tentang aksi massa oleh mahasiswa serta masyarakat menjadi sebuah topik hangat yang menarik untuk diperbincangkan. Timbul banyak opini tersendiri pada kehidupan sosial tentang fenomena ini. Ada yang setuju dengan keadaan ini, tidak sedikit pula yang tidak setuju. Bahkan, dari pihak mahasiswa pun terjadi beda pendapat mengenai aksi massa. Banyak dari mahasiswa yang mencemooh aksi unjuk rasa yang dilakukan rekan mereka . Dan yang lebih dahsyat lagi ada pula yang mengatakan bahwa itu tindakan bodoh yang tidak pantas dilakukan oleh kaum intelektual, gelar yang selama ini di sandingkan kepada mahasiswa.
  Lalu, apakah benar aksi massa itu bukan jalan keluar dalam menghadapi permasalah yang menimpa negeri pada masa modern ini? Mari kita luruskan.
Demonstrasi secara sederhana diartikan sebagai kumpulan orang yang terkoordinir dan memiliki tujuan yang sama, lalu meneriakkan suara mereka demi terwujudnya mimpi, bisa di jalanan atau tempat ramai. Lalu, mengapa kita harus memandang sebelah mata istilah ini? Mereka hanya berusaha mewujudkan mimpi mereka, itu esensi yang dimiliki kegiatan ini. Jika suatu saat terjadi kekacauan, sudah jelas itu bukan jiwa dari aksi massa. Menurut penulis, ini adalah akibat dari manifestasi kekesalan KARENA TERIAKAN MEREKA TERLALU LAMA DI BIARKAN .....
Gerakan berbasis intelektualitas yang diwujudkan melalui diskusi dan kajian, serta pendekatan modern yang berbasis pada negosiasi, saat ini benar-benar diidam-idamkan oleh banyak pihak, termasuk mahasiswa. Sudut pandang pemikiran pemuda era ini telah bergeser jauh dibandingkan generasi sebelumnya . Pergerakan pemuda masa kini yang lebih terlihat elegan melalui kajian dan negosiasi telah merasuk pada jiwa mahasiswa, sehingga timbul indikasi apatis terhadap demonstrasi atau aksi massa pada pergerakan mahasiswa.
sejatinya, tugas mahasiswa bukan hanya duduk manis dikelas, mengumpulkan tugas dalam rangka mengejar nilai IPK yang "CUM LAUDE". mahasiswa juga berperan sebagai Agent of Change, yang melakukan perubahan , pengawas bagi para birokrat - birokrat  dan juga sebagai pengawal demokrasi dan suksesor kehidupan bangsa. selain itu, mahasiswa juga bertugas sebagai penyambung lidah dan penyampai aspirasi rakyat kepada para wakilnya yang berada di "kursi atas" yang kini mulai melupakan tugas serta amanah yang rakyat serahkan pada mereka.
Menindak lanjuti kewajiban yang ada di pundak mereka, mahasiswa harus mulai bergerak , melangkah maju  tanpa ada ambivalensi atas kehidupan sosial di sekeliling mereka. Integrasi sikap dan fikroh mereka dalam sebuah pergerakan membela kepentingan rakyat dan negara.
Inilah era yang semestinya menjadi masa keemasan politik mahasiswa. Masa dimana mahasiswa bisa ikut berperan menentukan arah perjalanan bangsa, baik dengan fungsi kontrol sosialnya maupun terlibat aktif didalam perpolitikan tanah air. Tidak ada semestinya yang dapat menghalangi mahasiswa untuk bersikap dan berbeda pandangan dengan penguasa juga dengan kekuatan politik yang ada.

Dalam pandangan saya, di era inilah, apalagi dengan dukungan teknologi informasi saat ini, Mahasiswa harus berperan lebih aktif dalam perpolitikan tanah air. Tidak hanya sebagai kontrol sosial tapi bisa juga peran dalam mendorong terjadinya sebuah kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat banyak. Dan sebuah kelaziman menurut saya (bahkan harus), mahasiswa membangun jaringan dengan kekuatan-kekuatan politik yang ada baik secara individu sebagai seoarang aktivis, maupun secara kelembagaan.

Saya tidak khawatir mahasiswa akan jadi alat politik, dimanfaatkan kekuatan politik. Karena sebagai makhluk dewasa, sebagai mahkluk intelektual, tentu mahasiswa sebagai pribadi tahu mana yang terbaik untuk mereka, pandangan politik, ideologi politik seperti apa yang cocok untuk mereka.

Sementara untuk lembaga Mahasiswa, saya juga tidak khawatir akan terjadi politisasi untuk mengarahkan dukungan pada kekuatan politik tertentu. Terlalu naif jika kita beranggapan demikian. Di era kebebasan informasi seperti ini, tentu berbeda sekali kondisinya dengan zaman aktifis dimasa lampau. Zaman ini, aktifis mahasiswa bisa bertukar informasi dengan demikian cepat, mencari informasi dengan begitu mudah, maka tentu mereka tidak akan mudah dikuasai oleh satu-dua kelompok politik tertentu.

Jadi hemat saya, pergerakan mahasiswa masa ini, haruslah pergerakan yang membuka diri terhadap semua perkembangan yang ada diluar dirinya. Bukan hanya melihat persoalan kemasyarakatan dan persoalan politik dari kacamata sebagai seoarang aktifis mahasiswa, tapi juga bisa menerima dan memperkaya diri dengan pengetahuan dan realitas politik yang ada dari kacamata pelaku politik itu sendiri.

Dengan membuka diri terhadap kondisi politik aktual dengan segala perbedaannya, jauh akan lebih mudah bagi mahasiswa mengidentifikasi apa sesungguhnya yang sedang terjadi diluar lingkungan mereka, kampus. Mengundang, menerima segala kekuatan politik hadir di kampus, mempersilahkan kekuatan tersebut berbagi gagasan, justru akan menambah referensi bagi mahasiswa dalam menentukan sikap politiknya, menetukan sikap pembelaannya kepada kepentingan rakyat terutama.

Hemat saya, inilah ere, dimana kampus dan mahasiswa harus dengan tegas menolak segala kebijakan sterilisasi kampus dari politik. Sterilisasi yang menjauhkan mahasiswa dari persoalan rakyat, dari persoalan bangsa dan negara. Persoalan yang semestinya mereka ketahui dan kenali dengan baik, karena sejatinya, segala persoalan tersebut akan menghampiri mereka saat mereka menjadi pemimpin dimasa mendatang.

Hidup Mahasiswa !!

YAKUSA . . . lASKAR HIJAU HITAM

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS